Konsep Masyarakat Jepang dalam Bersosialisasi

ikuzoLifestyleLeave a Comment

Bahasa dan budaya merupakan dua sisi yang paling kompleks dalam kehidupan. Orang Jepang cenderung untuk menempatkan diri mereka dalam komunitas mereka sendiri yang eksklusif dan tertutup. Dengan demikian, mereka memiliki kepribadian tertutup dan memberikan perhatian serius terhadap harmoni serta bersifat kooperatif dalam kelompok. Budaya Jepang adalah kelompok yang berorientasi dan orang-orang cenderung untuk bekerja bersama-sama daripada menunjukkan individualitas mereka. Budaya timur yang lekat dengan masyarakat Jepang adalah tata krama mereka dalam pergaulan sosial. Berikut ini tiga hal mengenai konsep bersosialisasi dalam masyarakat Jepang, antara lain :

Honne dan Tatemae

Honne dan Tatemae secara harfiah diterjemahkan sebagai “suara hati” dan “mimik wajah”. Honne adalah wajah pribadi yang hanya ditampilkan kepada diri sendiri dan orang yang dipercayai. Sedang tatemae adalah wajah publik yang ditampilkan ke orang lain.

Masyarakat Jepang yang masih memegang tradisi ketimuran, terkenal akan basa basinya dalam mengungkapkan sesuatu. Untuk menghindari menyinggung atau memalukan siapa pun, orang Jepang cenderung memiliki kebiasaan menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya dan ini dapat membingungkan orang non Jepang yang tidak terbiasa dengan budaya kolektivis ini. Namun, orang Jepang bangga pada praktik seperti itu untuk menjaga harmoni sosial. Orang Jepang terbiasa mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung, di antaranya dengan idiom-idiom dan peribahasa. Selain itu, ada kalanya maksud atau pesan lebih efektif dan tepat jika diutarakan melalui ungkapan tidak langsung.

Omotenashi

(sumber gambar : Yoshikazu Tsuno/AFP/Getty Images)

Omotenashi adalah bentuk layanan dan keramahtamahan yang diberikan oleh orang Jepang kepada yang dihormati. Biasanya hal ini dipraktekkan di ranah sosial hingga industri untuk menampilkan sisi ramah tamah orang Jepang. Dari salam “Irasshaimase!” yang antusias, sampai membungkuk tak henti-hentinya, untuk melayani dan membuat kalian merasa seperti bangsawan.

Omoiyari

Bisa diartikan “berpikir sambil melakukan” atau bertindak bijaksana. Bertindak dan berpikir penuh pengertian, memiliki belas kasih dan empati adalah contoh omoiyari. Biasanya di tempat umum, ditampakkan dengan memberikan tempat duduk pada orang tua. Bertindak sebagai manusia yang penuh pengertian. Hal ini sangat penting dalam menjaga keharmonisan dalam masyarakat Jepang.

sumber : niindo, media.nelitibudaya jepang, etika jepang, masyarakat jepang, obaradai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *