Budaya Bersepeda di Jepang

ikuzoLifestyleLeave a Comment

Sepeda adalah sarana transportasi di Jepang yang paling terkenal dan dapat dibilang telah menjadi suatu budaya di Negeri Sakura tersebut. Sepeda memang dipakai oleh hampir semua orang di Jepang tidak peduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, miskin atau kaya. Jika jarak tempuh tidak terlalu jauh, bersepeda adalah alternatif pertama karena murah dan cepat.

Sepeda tergolong lebih ekonomis dalam segi perawatan dan perbaikan, karena itu, jumlah orang yang mengendarai sepeda di Jepang lebih banyak dari orang yang mengendarai mobil dan sepeda motor pribadi. Banyak juga siswa yang pergi ke sekolah menggunakan sepeda. TIDAK ADA siswa sekolah (SD, SMP dan SMA) yang mengendarai sepeda motor apalagi mobil. Hal itu sangat dilarang keras oleh pihak sekolah, meskipun untuk membuat SIM sepeda motor 50 cc atau yang disebut gentsuki persyaratannya minimal usia 17 tahun (di prefektur Gifu). Bahkan ada pihak sekolah yang mengeluarkan siswanya bila memiliki SIM sepeda motor 50 cc sebelum lulus SMA.

Mengapa pihak sekolah disiplin sekali melarang siswanya mengendarai sepeda motor bahkan memiliki SIM motor 50cc, padahal 17 tahun sudah bisa membuat SIM?

Pihak sekolah bertujuan mengajarkan moral kebersamaan, tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, disiplin fisik dan kerja keras untuk menuntut ilmu atau mimpi.

Sekolah-sekolah atau dinas sosial di Jepang, biasanya mengadakan beberapa kegiatan mengenai hal-hal sosial misalnya pelatihan kebakaran, pelatihan cara berlindung saat gempa, bahkan pelatihan cara mematuhi aturan lalu lintas yang ada, dan salah satu pelatihannya juga adalah pelatihan bagaimana cara mengendarai sepeda dengan baik.

Beberapa sekolah misalnya, mengadakan sebuah “Cycling Workshop”, yaitu workshop sekaligus simulasi cara mengendarai sepeda yang baik di Jepang bagi murid-murid baru, atau jika harus mengadakan sosialisasi jika ada peraturan yang baru. Banyak hal baru yang bisa didapat dari workshop ini, diantaranya :

  1. Di Jepang, sepeda itu layaknya kendaraan lain seperti mobil dan motor, harus punya keterangan hak milik dan diregistrasikan. Beberapa keuntungan kalau kalian mendaftarkan sepeda kalian adalah kalian akan bebas dari tuduhan pencurian, karena polisi akan percaya bahwa yang kalian kendarai adalah sepeda milik kalian sendiri. Dan yang kedua, lebih mudah bagi polisi untuk mencari sepeda kalian jika suatu saat hilang.
  2. Tidak diperbolehkan membonceng orang lain kecuali dengan anak kecil. Jadi meskipun sepeda kalian menyediakan sadel untuk boncengan, yang boleh dibonceng hanyalah anak kecil, paling besar sampai usia sekolah menengah pertama.
  3. Jika saat mengendarai sepeda harus melewati perlintasan kereta api, kalian harus turun dan menenteng sepedanya, meskipun tidak ada kereta yang lewat. Hal ini juga adalah untuk menjaga keselamatan si pengendara sepeda itu sendiri. Karena sebenarnya beberapa tempat di Jepang tidak memiliki palang pintu perlintasan, jadi demi keamanan, para pengendara sepeda harus turun dari sepedanya terlebih dahulu untuk menyebrang.
  4. Kalian harus mengikuti rambu-rambu yang berlaku kalau tidak mau mendapat denda.
  5. Dilarang bersepeda sambil memegang payung. Karena dianggap jika satu tangan memegang payung dan tangan lainnya menyetir, maka pengendara sepeda akan berjalan tidak seimbang dan hal tersebut membahayakan pengendara sepeda lain bahkan para pengguna jalan lain.
  6. Tidak boleh menggunakan earphone/headset/mobile phone sambil bersepeda. Tentu karena hal ini juga akan mengaburkan konsentrasi pengendara sepeda hingga tidak menghiraukan kondisi jalanan di sekelilingnya.

Kemudahan bersepeda di Jepang ditunjang dengan jalur sepeda yang memadai. Sebagai pesepeda, kalian lebih dihormati di jalanan, terutama oleh pengemudi mobil. Pesepeda selalu diberi kesempatan pertama untuk menyeberang jalan. Tidak ada rasa was-was takut ditabrak atau dipepet.

Jalur sepeda di sana selalu steril dari pedagang kaki lima. Tidak ada mobil yang diparkir tepat menutupi sepeda. Bila tidak ada jalur khusus sepeda, pesepeda dapat melaju di trotoar. Trotoar di sana sengaja dibuat cukup lebar untuk bisa mengakomodasi pejalan kaki dan pesepeda sekaligus. Namun, pesepeda harus mengalah kepada pejalan kaki. Meskipun berbagi trotoar, tidak pernah ada kejadian pejalan kaki tertabrak sepeda. Masing-masing individu sudah paham untuk berbagi tempat seperti aturan tidak tertulis lainnya saat antre ataupun naik-turun tangga.

Bersepeda di Jepang adalah satu dari banyak hal yang harus kalian lakukan jika berkunjung ke Negeri Sakura ini. Meskipun ada beberapa peraturan yang harus diikuti, tapi bersepeda menyusuri jalan-jalan di Jepang dan menikmati spot-spot indah untuk wisata adalah salah satu cara yang bisa direkomendasikan agar dapat lebih menikmati suasana di Jepang.

Yuk belajar dari Jepang. Budayakan bersepeda, selain hemat juga baik untuk kesehatan.

sumber : facebook, indonesiamengglobal, his-travel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *